Saat mengendarai motor, dulu waktu masih awal awalnya, aku
sering fokus pada spion,.. aku selalu mengamati spion, takut kalau kalau ada
mobil di belakang, entah itu truk atau bus antar kota, takut ketabrak lah
tepatnya,.. hingga kadang aku tak fokus pada jalan yang didepan, dan lalu
“glek”, ada lobang yang tak bisa kuhindari,..
Seperti itu hidup ku,.. kadang aku terlalu fokus pada masa
lalu, semua kesalahan ku, kekhilafan ku dan semua tingkah laku yang memalukan
hingga aku kadang teelupa aku sudah punya anak dan suami yang pasti harus ku
urus,..
Suami. Dulu waktu masih
tengil tengilnya, aku punya beberapa temen deket. Cowok tentunya. Ada yang
cemburu, ada yang galak, ada yang pelit, ada yang arogan dan macam macam teman
saat itu,.. aku selalu meminta dalam tiap doa, aku pengen cowok yang ga harus
telfon (biar irit pulsa), yang ga harus tiap saat ngecek aku dimana (kayak
tahanan rasanya), yang ga harus pergi jalan,.. untuk diketahui, aku tak pernah
suka pergi, anak rumahan, karena menurutku kalau pergi cuma ngabisin duit,
jajan,belum macetnya, panasnya, waktu yang terbuang dijalan,.. ah, semua itu
bikin malas, mending belajar komputer atau baca buku dirumah. Aku kutu buku,
kadang kalau gajian aku beli buku, atau kalau ngantar anak bos ke gramedia aku
suka berani malu minta 1, dipotong gaji juga boleh, tapi bos tak pernah
memotong gajiku, bliau ternyata suka punya karyawan kutu buku,.. ah, aku merasa
Alloh Maha Adil,..
Kembali fokus ke kriteria calon suami. Aku suka cowok biasa
aja,ga neko neko, TANGGUNG JAWAB itu pasti karena itu syarat mutlak dari orang
tua. Mereka bilang, kalau pria tanggung jawab, walaupun orang tua mu sudah tak
ada, mereka insyaalloh akan tetap bertanggung jawab. Sekian waktu berlalu, dan
aku bertemu dengan Reki Andriawan. Dia temen kenal dulu waktu SMA. Pas ketemu
sih biasa aja. Tak terfikir akan jadi suami. Jarang telefon, sms apa lagi,
hingga suatu waktu dia bilang mau menikahiku,.. Ciaaaaaa, rasanya biasa aja,
aku fikir dia becanda karena orang nya lucu, suka guyon, aku Cuma jawab langsung aja ke ortu deh,
kalau serius, eh malah beneran dia pulang kampung dan melamarku, aku tetap
dijakarta waktu itu. Ya sudahlah, aku resmi lah “jadian”. Tak ada yang berubah
diantara kita. Aku ya tetap aku yang ga suka dolan, yang ga suka telefon, dia
kebetulan juga begitu. Ketemu pun kalau dia lewat kerjaan ku dan mampir. Sampai
tiba saat nya kami menikah, dan kini kami dikaruniai 1 anak. Thanks God,..
Udah ah,.. biar selalu membara aja perasaan ini, aku
menuliskannya di blog. Ga niat pengen di komentarin, dibaca orang lain juga
malu,.. heheheee..